Total Tayangan Halaman








Kamis, 29 Maret 2012

Potret Perfilman Indonesia



Dewasa ini perfilman Indonesia mengalami kemunduran dari segi kualitasnya. Hal ini menjadikan perfilman indonesia mendapatkan sorotan banyak pihak. Terutama oleh orang tua, guru, pemerhati anak dan semua orang yang peduli terhadap generasi muda bangsa indonesia. Pasalnya, film-film yang diproduksi oleh orang-orang perfilman terkesan menonjolkan sisi-sisi  negatif yang otomatis memberikan dampak  negatif pula.
judul film yang  horor seperti tali pocong perawan, kuntilanak kesurupan sangat terdengar aneh. Judul porno seperti pergaulan bebas, menculik miyabi menjadi icon porno di dunia industry perfilman. Mungkin inilah gambaran dari sebuah bangsa yang memproduksi film-film seperti itu. Gambaran bahwa bangsa kita sudah tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lainya. Dan sungguh sangat ironis, film-film yang menimbulkan kontroversi karena menonjolkan sisi negatifnya saja, sehingga sebagian penonton hanya mencari dari sisi negatifnya saja.  Sebagai contoh film yang berjudul “Arwah goyang karawang” yang dimainkan oleh Depe dan Jupe sebagian kalangan  tidak menyukai karena kental dengan pornoaksi dan pornografinya. Namun, pengunjung tetap memadati setiap bioskop.
Dampak negatif pada masyarakat akan terlihat cepat atau lambat. Namun, ketika melihat data empiris di lapangan banyaknya tindak pidana mengenai asusila, hal itu mungkin saja adalah salah satu dampak dari perfilman Indonesia.
Banyak pihak yang kecewa dengan lembaga sensor perfilman indonesia. Kekecewaan tersebut, terlihat ketika sebuah blog lembaga sensor film indonesia menegaskan bahwa film-film yang dikeluhkan oleh masyarakat yang kecewa itu tergolong film untuk dewasa. Meskipun tergolong film dewasa, namun tidak mustahil para remaja atau bahkan anak-anak mengkomsumsi film tersebut. Dengan modal keingintahuan remaja ditunjang pula lewat fasilitas teknologi seperti Internet. Film yang dikhususkan untuk dewasa ini sehingga dapat ditonton oleh remaja dibawah umur. 
Banyaknya tema-tema film yang  sepertinya semakin memojokan moralitas bangsa yang akan berdampak negatif pada kualitas perfilman Indonesia. Semakin banyaknya film-film yang diproduksi namun sepertinya tidak mempunyai arah. Dan yang paling disayangkan tidak sedikit film-film yang menonjolkan tema  mengenai kekerasan, cinta, horor dan seksualitas. Film itu tidak hanya di tonton dan selesai. Namun bisa saja menjadi alat propoganda masal kepada setiap penontonya
Orang-orang di Jaman sekarang  berlomba-lomba memproduksi film-film yang menonjolkan horor dan porno. Hingga membanjiri perindustrian perfilman di Indonesia, yang hanya bertujuan komersil. Dalam pembuatan film-filmnya mengesampingkan unsur pencerahan dan pendidikan yang seharusnya paling menonjol dalam film Indonesia tanpa kehilangan sifatnya sebagai media penghibur.
Diantara kemerosotan yang terjadi tetap saja masih ada sosok-sosok teladan dalam perfilm Indonesia Diantaranya alm Arifin C Noor beliau mengatakan “bahwa kesenian saya bukan uang”. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung, Apabila terjun dalam sebuah bidang. Dia harus mempersiapkan diri baik fisik, mental, dan teknis di dunia perfilman. Sejalan dengan itu,  film-film yang menonjolkan unsur pendidikan pun tetap ada. Meski tak sebanyak film-film yang menyimpang. Contohnya laskar pelangi, denias, sang pencerah dan ayat-ayat cinta. Dan baru baru ini tayang film terbaru yang berjudul negri 5 menara. Yang diputar perdana serempak pada tanggal 1 Maret 2012 dibioskop-bioskop. Film ini sangat menonjolkan pendidikan dan agama  di dalamnya tanpa hilang kesan sebagai media penghibur. Film ini juga diilhami dari novel best seller “negri 5 menara” karangan A fuadi.
Sudah 62 tahun perfilman indonesia berdiri. Selamat itu pula perkembangan perfilman indonesia sempat mengalami pasang surut. Apabila kita melihat sekilas ke sejarah pefilman Indonesia. Maka kita ketahui bahwa,  film yang pertama kali dibuat di Tanah Air adalah film Lutung Kasarung pada tahun 1926.  Namun, Hari Film Nasional mengacu pada tanggal dimulainya syuting film berjudul Darah dan Doa karya Usmar Ismail. Pasalnya, film yang pertama kali dibuat pada tanggal 30 Maret 1950 dengan berlatar belakang kisah perjuangan ini digarap oleh kru yang semuanya pribumi. Darah dan Doa juga merupakan film pertama yang diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional.
Apabila di lihat UUD 08 thn 1992  tentang perfilman bahwa film itu harus bertujuan sebagai alat komunikasi, alat mencerdaskan bangsa dan sebagai penerang, pendidik penghibur yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Namun, apabila melihat fenomena di Indonesia hakikat film sesuai UUD tidak sepenuhnya diterapkan di dalam film Indonesia. Film yang seharusnya mencerdaskan bangsa dengan cerita-cerita yang menjadi pencerah dan mendidik namun sebaliknya merusak moralitas bangsa. Sungguh sangat Ironis sekali.
Amandemen terbaru mengenai perfilman pada tahun 2009, menimbulkan kontroversi pihak-pihak tertentu. Yaitu orang-orang yang terlibat di dunia perfilman. Mereka mengecewakan UU terbaru tersebut karna di anggap memenjarakan kreatifitas orang-orang perfilman Indonesia. Kemudia para sutradara seperti Dedy mizwar dll mengatakan bahwa UU terbaru itu bisa saja mengembalikan perfilm indonesia pada orde baru. Dimana segala-sesuatu dibatasi oleh pemerintah. Sehingga tak bisa bebas dalam berkarya.
Sejatinya sebuah film itu mendidik setiap penontonya. Memberikan pengetahuan dengan cerita-cerita yang memberikan manfaat pada penontonya. Memang dalam memandang segala sesuatu ada pro dan kontra. Meskipun pemerintah telah menentukan UU tentang perfiman tetap saja tidak akan terwujud tanpa ada kesadaran dari setiap individu tersebut.
Perfilman Indonesia memang sedang berkembang. Banyak film-film Indonesia yang di apresiasi dengan positif. Tentu saja film-film yang memang mendidik dan menarik untuk di tonton. Pada tanggal 30 Maret yang di syahkan menjadi tanggal lahirnya perfilman Indonesia. Semoga harapan setiap orang bisa terwujud di suatu saat nanti. Yaitu bangga terhadap film-film Indonesia. Dengan meningkatkan produksi perfilman yang berlatar atau ada kemasan budaya, adat istiadat, dan perjuangan bangsa ini seperti yang amat menonjol pada karakter film Korea, juga Hongkong, India bahkan Perancis, India, Iran, dan              Hongkong. Yang secara tidak langsung mengenalkan budaya Indonesia yang melimpah pada dunia.


.


Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogroll